Jumat, 30 September 2022

IPW Sebut Oknum Polairud Terduga Penganiaya Wartawan Pantas di PTDH

5 Maret 2022 01:28
Laporan dugaan tindak penganiayaan wartawan Tarakan ke Div Propam Mabes Polri

Hits: 502

TARAKAN [seraungpos.com] – Berkaitan laporan di Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri soal dugaan tindak penganiayaan terhadap wartawan Tarakan, Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso meminta Bidpropam Polda Kaltara segera memeriksa Briptu HSB. Jumat (4/3/2022).

“Harus ditindak tegas oleh Kapolda Kaltara dengan memerintahkan Bidpropam Polda Kaltara, segera turun memeriksa dan menahan oknum polisi tersebut,” tegasnya.

Menurutnya, bila oknum polisi tersebut terbukti bersalah, sangat pantas diajukan ke peradilan pidana dan di PTDH (Pemberhentian Tidak dengan Hormat).

Sebelumnya, Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri di Jakarta menerima laporan dugaan penganiayaan terhadap wartawan media lokal Tarakan berinisial M. Sesuai laporan, penganiayaan dilakukan oknum anggota Polairud Tarakan Juwata Laut Polda Kaltara berinisial HSB dibantu oleh dua orang lainnya.

Laporan yang teregister nomor SPSP 2/1311/III/2022/Bagyanduan tertanggal 1 Maret 2022, menyebutkan bahwa penganiayaan terjadi beberapa hari sebelumnya, sekira akhir Februari 2022 di Kota Tarakan. M mengaku telah mengalami intimidasi dan penganiayaan, bahkan telah dipukul menggunakan senjata api oleh oknum anggota Polairud berinisial HSB.

Berdasar laporan M, peristiwa bermula saat dirinya diajak AS menemui HSB di rumahnya di Jalan Mulawarman Kota Tarakan. Sesampainya di sana, M langsung diinterogasi dan langsung dianiaya HSB.

“Saya diajak ke rumah HSB di jalan Mulawarman, Kota Tarakan oleh AS, dan saya dibawa ke rumah HSB bersama dengan AS, dan bertemu dengan HSB dan dua orang lainnya, dan saya diinterogasi dan mendapatkan penganiayaan,” ungkapnya.

M kemudian disekap di rumah tersebut dengan kedua tangan dilakban ke belakang. Mulai pukul 21.00 Wita, M terus dianiaya HSB yang dibantu dua orang lainnya.

“Saya ditumbuk bagian ulu hati dengan tangan kosong, ditodong pistol oleh HSB, dan dipukul di bagian pelipis saya dengan gagang pistol. Dua orang anak mengancam dengan senjata tajam berupa badik,” jelasnya.

Dalam keadaan tangan terikat ke belakang, M mengaku digiring ke muara sungai. Di tempat ini, M kembali diikat kedua kaki dan tangannya, bahkan seluruh mukanya pun ditutup menggunakan lakban. M kemudian diancam akan dibuang ke laut dengan menggunakan jangkar.

“Saya mendengar, agar mayat tidak ditemukan,” jelasnya.

M kemudian dibebaskan pada pukul 03.00 dinihari dengan catatan pada pukul 07.00 dan 08.00 datang kembali menemui HSB.

Terkait laporannya ke Propam Mabes Polri, M beralasan sebagai upaya perlindungan diri, dan dia yakin Mabes Polri tidak akan melindungi anggotanya yang bersalah.**

Pewarta : Ramses Lubis

TAGS:

Berita Terkait

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.